Kompos merupakan produk daur ulang
sampah organik yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman. Dalam permentan No.2/pert/hk.060/2/2006, tentang pupuk
organik dan pembenah tanah, dikemukakan bahwa produk organik adalah pupuk yang
sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari
tanaman atau hewan yang telah melalui preses rekayasa, dapat berbentuk padat
atau cair yang digunakan mensuplai bahan organic untuk memperbaiki sifat kimia
dan biologi tanah.
Kompos merupakan salah satu komponen
untuk meningkatkan kesuburan tanah dengan memperbaiki kerusakan fisik tanah
akibat pemakaian pupuk anorganik (kimia) pada tanah secara berlebihan yang
berakibat rusaknya struktur tanah dalam jangka waktu lama. Bahan organik
memiliki peran penting di tanah karena : 1) membantu menahan air, sehingga
ketersediaan air tanah lebih terjaga, 2) membantu memegang ion sehingga
meningkatkan kapasitas tukar ion atau ketersediaan hara. 3) menambah hara
terutama N, P, dan K setelah bahan organik terdekomposisi sempurna, 4) membantu
granulasi tanah sehingga tanah menjadi lebih gembur atau remah, yang akan
memperbaiki aerasi tanah dean perkembangan sistem perakaran, serta 5) memacu
pertumbuhan mikroba dan hewan tanah lainnya yang sangat membantu proses
dekomposisi bahan organik tanah (Simamora,
2006).
Kompos yang baik adalah yang sudah cukup
mengalami pelapukan dan dicirikan oleh warna yang sudah berbeda dengan warna
bahan pembentuknya, tidak berbau, kadar air rendah dan sesuai suhu ruang.
Proses pengomposan adalah proses menurunkan C/N bahan organik hingga sama
dengan C/N tanah (< 20). Selain itu pemanfaatan sampah organik untuk
dijadikan bahan kompos dapat membantu program pemerintah untuk mengurangi
jumlah sampah yang dibuang ke TPA (tempat pembuangan akhir).
1
Pengertian Kompos
Kompos
adalah hasil penguraian dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat
oleh populasi berbagai macam mikroorganisme dalam kondisi lingkungan yang
hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik (Djaja, 2008). Kompos adalah pupuk
yang dihasilkan dari bahan organik melalui proses pembusukan.
Kompos
merupakan salah satu komponen untuk meningkatkan kesuburan tanah dengan
memperbaiki kerusakan fisik tanah akibat pemakaian pupuk anorganik (kimia) pada
tanah secara berlebihan yang berakibat rusaknya struktur tanah dalamjangka
waktu lama.
Proses
pengomposan adalah proses menurunkan C/N bahan organik hingga sama dengan C/N
tanah (< 20). Selama proses pengomposan, terjadi perubahan-perubahan unsur
kimia yaitu : 1) karbohidrat, selulosa, hemiselulosa, lemak dan lilin menjadi
CO2 dan H2O, 2) penguraian senyawa organik menjadi senyawa yang dapat diserap
tanaman. Pupuk kompos berfungsi untuk
memperbaiki kesuburan tanah dan sekaligus meningkatkan produktivitas lahan dan
tanaman. Pembuatannya dilakukan pada suatu tempat yang terlindung dari matahari
dan hujan. Untuk mempercepat perombakan
dan pematangan serta menambah unsur hara, dapat ditambahkan campuran kapur dan
kotoran ternak (ayam, kambing atau sapi).
Bahan yang digunakan sebagai sumber kompos dapat berupa limbah, seperti
sampah atau sisa-sisa tanaman tertentu (jerami, rumput dan lain-lain).
Kompos merupakan hasil
perombakan bahan organik oleh mikrobia dengan hasil akhir berupa kompos yang
memiliki nisbah C/N yang rendah. Bahan yang ideal untuk dikomposkan memiliki
nisbah C/N sekitar 30, sedangkan kompos yang dihasilkan memiliki nisbah C/N
< 20. Bahan organik yang memiliki nisbah C/N jauh lebih tinggi di atas 30
akan terombak dalam waktu yang lama, sebaliknya jika nisbah tersebut terlalu
rendah akan terjadi kehilangan N karena menguap selama proses perombakan
berlangsung. Kompos yang dihasilkan dengan fermentasi menggunakan teknologi
mikrobia efektif dikenal dengan nama bokashi. Dengan cara ini proses pembuatan
kompos dapat berlangsung lebih singkat dibandingkan cara konvensional.
Pengomposan pada
dasarnya merupakan upaya mengaktifkan kegiatan mikrobia agar mampu mempercepat
proses dekomposisi bahan organik. Yang dimaksud mikrobia disini bakteri, fungi dan
jasad renik lainnya. Bahan organik disini merupakan bahan untuk baku kompos
ialah jerami, sampah kota, limbah pertanian, kotoran hewan/ ternak dan
sebagainya. Cara pembuatan kompos bermacam‐macam
tergantung: keadaan tempat pembuatan, buaday orang, mutu yang diinginkan,
jumlah kompos yang dibutuhkan, macam bahan yang tersedia dan selera si pembuat.
Yang perlu diperhatikan dalam proses pengomposan ialah:
a.
Kelembaban timbunan bahan kompos. Kegiatan dan kehidupan mikrobia sangat
dipengaruhi oleh kelembaban yang cukup, tidak terlalu kering maupun basah atau
tergenang.
b.
Aerasi timbunan. Aerasi berhubungan erat dengan kelengasan. Apabila terlalu
anaerob mikrobia yang hidup hanya mikrobia anaerob saja, mikrobia aerob mati
atau terhambat pertumbuhannya. Sedangkan bila terlalu aerob udara bebas masuk
ke dalam timbunan bahan yang dikomposkan umumnya menyebabkan hilangnya nitrogen
relatif banyak karena menguap berupa NH3.
c.
Temperatur harus dijaga tidak terlampau tinggi (maksimum 60 0C). Selama
pengomposan selalu timbul panas sehingga bahan organik yang dikomposkan
temparaturnya naik; bahkan sering temperatur mencapai 60 0C. Pada temperatur
tersebut mikrobia mati atau sedikit sekali yang hidup. Untuk menurunkan
temperatur umumnya dilakukan pembalikan timbunan bakal kompos.
d.
Suasana. Proses pengomposan kebanyakan menghasilkan asam‐asam organik, sehingga
menyebabkan pH turun. Pembalikan timbunan mempunyai dampak netralisasi
kemasaman.
e. Netralisasi kemasaman sering
dilakukan dengan menambah bahan pengapuran misalnya kapur, dolomit atau abu.
Pemberian abu tidak hanya menetralisasi tetapi juga menambah hara Ca, K dan Mg
dalam kompos yang dibuat.
2
Manfaat Kompos
Manfaat kompos organik
diantaranya adalah
a.
memperbaiki struktur tanah berlempung
sehingga menjadi ringan.
b.
memperbesar daya ikat tanah berpasir
sehingga tanah tidak berderai.
c.
menambah daya ikat tanah terhadap air
dan unsure-nsur hara tanah.
d.
memperbaiki drainase dan tata udara
dalam tanah.
e.
mengandung unsur hara yang lengkap,
walaupun jumlahnya sedikit (jumlah hara ini tergantung dari bahan pembuat pupuk
organik).
f.
membantu proses pelapukan bahan mineral
g.
memberi ketersediaan bahan makanan bagi
mikrobia.
h.
menurunkan aktivitas mikroorganisme yang
merugikan (Djaja, 2008).
Pada dasarnya kompos dapat
meningkatkan kesuburan kimia dan fiisik tanah yang selanjutnya akan
meningkatkan produksi tanaman. Pada tanaman hortikultura (buah‐buahan, tanaman hias, dan
sayuran) atau tanaman yang sifatnya perishable ini hampir tidak mungkin ditanam
tanpa kompos. Demikian juga di bidang perkebunan, penggunaan kompos terbukti
dapat meningkatkan produksi tanaman. Di bidang kehutanan, tanaman akan tumbuh
lebih baik dengan kompos. Sementara itu, pada perikanan, umur pemeliharaan ikan
berkurang dan pada tambak, umur pemeliharaan 7 bulan menjadi 5‐6 bulan.
Kompos
membuat rasa buah‐buahan
dan sayuran lebih enak, lebih harum dan lebih masif. Hal inilah yang mendorong
perkembangan tanaman organik, selain lebih sehat dan aman karena tidak
menggunakan pestisida dan pupuk kimia rasanya lebih baik, lebih getas, dan
harum. Penggunaan kompos sebagai pupuk organik saja akan menghasilkan
produktivitas yang terbatas. Penggunaan pupuk buatan saja (urea, SP, MOP, NPK)
juga akan memberikan produktivitas yang terbatas. Namun, jika keduanya
digunakan saling melengkapi, akan terjadi sinergi positif. Produktivitas jauh
lebih tinggi dari pada penggunaan jenis pupuk tersebut secara masing‐masing.
3
Bahan-bahan Kompos
3.1 Kotoran Sapi
Pemanfaatan limbah
peternakan (kotoran ternak) merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat
untuk mengatasi kelangkaan dan naiknya harga pupuk. Pemanfaatan kotoran ternak
sebagai pupuk sudah dilakukan petani secara optimal di daerah-daerah sentra
produk sayuran. Sayangnya masih ada kotoran ternak tertumpuk di sekitar kandang
dan belum banyak dimanfaatkan sebagai sumber pupuk. Keluhan petani saat terjadi
kelangkaan atau mahalnya harga pupuk non organik (kimia) dapat diatasi dengan
menggiatkan kembali pembuatan dan pemanfaatan pupuk kompos.Kotoran sapi perah
umumnya banyak mengandung air dan nitrogen (N).
3.2 Bekatul
Bekatul yang merupakan hasil lain dari proses penggilingan
atau penumbukan gabah menjadi beras adalah nutrisi penuh gizi dimana dalam
penggilingan dan penumbukan terjadi pemisahan endosperma beras (nasi) dengan
bekatul yang merupakan lapisan yang menyelimuti endosperma.
Tetapi bekatul bukan Dedak karena bila gabah dihilangkan bagian
sekamnya melalui proses penggilingan (pengupasan kulit), akan diperoleh beras
pecah kulit (brown rice). Beras pecah kulit terdiri atas bran (dedak
dan bekatul), endosperm, dan embrio (lembaga).
Manfaat bekatul dalam kompos adalah kandungan zat gizinya sangat baik untuk mikro-organisme yang dapat
mempercepat pembusukkan sampah tersebut.
3.3 Sekam Padi
Sekam berfungsi untuk mengikat logam berat dan menggemburkan
tanah, sehingga bisa mempermudah akar tanaman menyerap unsur hara di dalamnya.
Pada proses penggilingan beras sekam akan terpisah dari butir beras dan menjadi
bahan sisa atau limbah penggilingan. Dari proses penggilingan padi biasanya
diperoleh sekam sekitar 20-30% dari bobot gabah. Sekam dengan presentase yang
tinggi tersebut dapat menimbulkan problem lingkungan. Maka dengan mengatasi
masalah ini, sekam bisa dimanfaatkan untuk bahan baku industri kimia, dan juga
kompos (Murbandono, 1994).
Sekam padi mempunyai kandungan kadar air dalam jumlah yang
relatif kecil. Selain itu ukuran partikel sekam yang relatif kecil dan ringan
juga mempengaruhi dosis pemakaiannya, yaitu diperlukan dalam jumlah yang besar
(Sutrisno, 2007).
3.4 Serbuk Gergaji
Serbuk kayu adalah kayu halus yang terpisah kemudian
direduksi menjadi partikel seperti tepung sereal dalam ukuran, penampilan, dan
teksturnya atau dengan defenisi lain serbuk kayu biasanya merujuk pada sebuah
partikel yang cukup kecil untuk melewati sebuah saringan dengan ukuran 850
mikron (menurut standar amerika sekitar 20 mesh).
Serbuk gergaji memiliki kandungan air kering sampai sedang.
Sebagai bahan baku kompos serbuk gergaji bernilai sedang hingga baik walau
tidak seluruh komponen bahan dirombak dengan sempurna. Serbuk gergaji ada yang
berasal dari kayu lunak dan ada pula kayu keras. Kekerasan jenis kayu
menentukan lamanya proses pengomposan karena kandungan lignin didalamnya.
Kualitas serbuk gergaji tergantung pada macam kayu, asal daerah penanaman, dan
umur kayu. Makin halus ukuran partikel serbuk gergaji makin baik daya serap air
dan bau yang dimilikinya.
3.5 EM-4 (Effective Microorganism)
EM-4 adalah kultur campuran dari mikroorganisme yang
menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Sebagian besar mengandung
mikroorganisme Lactobacillus sp.
bakteri penghasil asam laktat, serta dalam jumlah sedikit bakteri fotosintetik.
Streptomyces sp. dan ragi. EM-4 mampu
meningkatkan dekomposisi limbah dan sampah organik, meningkatkan ketersediaan
nutrisi tanaman serta menekan aktivitas serangga hama dan mikroorganisme
patogen. EM-4 diaplikasikan sebagai inokulan untuk meningkatkan keragaman dan
populasi mikroorganisme di dalam tanah dan tanaman, yang selanjutkan akan
meningkatkan kesehatan, pertumbuhan, kuantitas dan kualitas produksi tanaman
secara berkelanjutan. EM-4 juga dapat digunakan untuk mempercepat pengomposan
sampah organik atau kotoran hewan, membersihkan air limbah, serta meningkatkan
kualitas air pada tambak udang dan ikan.
4 Spesifikasi Kompos
4.1
Kandungan Hara
Kompos yang baik mengandung unsur
hara makro Nitrogen > 1,5 % , P2O5 (Phosphat) > 1 % dan K20 (Kalium )
> 1,5 %, disamping unsur mikro lainnya. C/N ratio antara 15‐20 , diatas atau dibawah itu
kurang baik. Untuk kepentingan bisnis, pupuk kompos yang dihasilkan harus
mempunyai kualitas yang ajek dan supply yang berkesinambungan.
Pupuk kompos untuk tanaman
organik, jika unsur haranya kurang dapat ditambah dengan bahan organik lainnya.
Nitrogen dapat ditambahkan urine ternak, mikroba pengikat Nitrogen, pupuk
organik yang berasal dari hewani seperti ikan, darah, dll. Phosphat dapat
ditambahkan dari pupuk guano atau rock phosphat, dapat juga dicampurkan dengan
mikroba pelepas phosphat. Kalium dapat ditambahkan dari arang/abu batok
kelapa/kelapa sawit, abu bekas incenerator, dll.
Pupuk kompos yang tidak
diperuntukkan bagi tanaman organik, selain dari campuran di atas dapat pula
diberikan campuran dengan pupuk buatan. Jadi, pupuk seperti ini hanya
dipergunakan untuk tanaman nonorganik. Karena bahan baku sampah tidak tetap,
diperlukan campuran dengan bahan lain agar kualitasnya terjaga. Quality control
harus diterapkan di sini, sehingga orang yang membeli benar‐benar puas.
4.2
Jenis kompos
Produksi kompos dapat dibedakan
ke dalam tiga kelompok :
1.
Kompos
murni. Pupuk ini ditujukan untuk lahan tanaman organik, namun juga dapat
digunakan untuk lahan pertanian nonorganik.
2.
Kompos
plus mikroba (pengikat N dan pelepas P). Pupuk yang telah diperkaya ini juga
diperuntukkan untuk lahan pertanian organik, namun juga dapat digunakan untuk
lahan pertanian nonorganik (biasa).
3.
Kompos
plus pupuk buatan. Pupuk ini hanya dapat digunakan untuk lahan pertanian non
organik
Kompos apabila dilihat
dari proses pembuatannya dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu : Kompos yang
diproses secara alami, dan Kompos yang diproses dengan campur tangan manusia.
a.
Kompos Yang Diproses Secara Alami
Yang dimaksud dengan pembuatan kompos secara alami adalah pembuatan
kompos yang dalam proses pembuatannya berjalan dengan sendirinya, dengan
sedikit atau tanpa campur tangan manusia. Manusia hanya membantu mengumpulkan
bahan, menyusun bahan, untuk selanjutnya proses composting / pengomposan
berjalan dengan sendirinya. Kompos yang dibuat secara alami memerlukan waktu
pembuatan yang lama, yaitu mencapai waktu 3 – 4 bulan bahkan ada yang mencapai
6 bulan dan lebih.
b.
Kompos
Yang Dibuat Dengan Campur Tangan Manusia
Yang dimaksud dengan pembuatan kompos
dengan campur tangan manusia adalah pembuatan kompos yang sejak dari penyiapan
bahan (pengadaan bahan dan pemilihan bahan), perlakuan terhadap bahan,
pencampuran bahan, pengaturan temperatur, pengaturan kelembaban dan pengaturan
konsentrasi oksigen, semua dilakukan dibawah pengawasan manusia.
5
Penyimpanan Kompos
Kompos apabila sudah jadi, sebaiknya
disimpan sampai 1 atau 2 bulan untuk mengurangi unsur beracun, walaupun
penyimpanan ini akan menyebabkan terjadinya sedikit kehilangan unsur yang
diperlukan seperti Nitrogen. Tetapi secara umum kompos yang disimpan dahulu
lebih baik. Penyimpanan kompos harus dilakukan dengan hati‐hati, terutama yang harus dijaga adalah:
a. Jaga kelembabannya jangan sampai < 20 persen dari bobotnya.
b. Jaga jangan sampai kena sinar matahari lansung (ditutup).
c. Jaga jangan sampai kena air / hujan secara langsung (ditutup)
Apabila akan dikemas, pilih bahan
kemasan yang kedap udara dan tidak mudah rusak. Bahan kemasan tidak tembus
cahaya matahari lebih baik. Kompos merupakan bahan yang apabila berubah, tidak
dapat kembali ke keadaan semula (Ireversible). Apabila kompos mengering, unsur
hara yang terkandung didalamnya akan ikut hilang bersama dengan air dan apabila
kompos ditambahkan air kembali maka unsur hara yang hilang tadi tidak dapat
kembali lagi. Demikian juga dengan pengaruh air hujan. Apabila kompos
kehujanan, unsur hara akan larut dan terbawa air hujan.
Kemasan kompos sebaiknya bahan yang kedap adalah untuk
menghindarkan kehilangan kandungan air. Kemasan yang baik membuat Kompos mampu
bertahan sampai lebih dari 3 tahun.
6 PUTS (Perangkat Uji
Tanah Sawah)
PUTS adalah
alat bantu analisis kadar hara tanah N, P, K, dan pH tanah sawah yang dapat
digunakan di lapangan dengan cepat, mudah, murah, dan akurat.
2.6.1 Manfaat PUTS:
a. Mengukur status hara N, P, K, dan pH tanah sawah
secara cepat dan mudah.
b. Dasar penentuan dosis
rekomendasi pupuk N, P, K dan amelioran tanah sawah
c. Menghemat penggunaan pupuk,
meningkatkan pendapatan petani dan menekan pencemaran lingkungan.
2.6.2 Prinsip
kerja :
a.
Mengekstrak hara N, P, dan K tersedia dalam tanah.
b.
Mengukur hara tersedia dengan bagan warna
c.
Menentukan rekomendasi pupuk padi sawah.
2.6.3 Penggunaan PUTS
Pada penelitian ini, alat PUTS
yang digunakan adalah pengukuran pH pada kompos yang telah jadi. Pengukuran pH
kompos dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a.
Perangkat PUTS untuk pengukuran pH adalah 2 tabung reaksi,
larutan pereaksi 1, larutan pereaksi 2, dan daftar tabel hasil pengukuran.
b.
Masing-masing kompos
dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berbeda. Kompos A pada tabung 1, dan
kompos B pada tabung 2. Kompos yang dimasukkan pada tabung reaksi setinggi 1 cm.
c.
setelah itu, tambahkan
larutan pereaksi 1 sebanyak 4 cm pada kedua tabung reaksi. Lalu aduk hingga
rata.
d.
Kemudian berikan
larutan pereaksi 2 sebanyak 2 tetes pada kedua tabung reaksi, lalu aduk
kembali.
e.
Setelah diaduk,
diamkan selama 10 menit hingga mengendap dan terlihat perubahan warna pada
larutan yang ada di tabung tersebut.
f.
Amati perubahan warna,
dan cocokkan pada daftar tabel warna.
2 komentar:
Terima kasih artikelnya. Semoga berkah akan saya coba
thank's
Posting Komentar